Budidaya Kerang Coklat 'Mytilopsis adamsi' - Pakan Lobster Harapan Masa depan

 





Oleh: Rita Rostikan

 Peneliti Lobster Universitas Padjadjaran 



Algivon.Com -- Lobster merupakan hewan nocturnal  yang memiliki aktifitas yang tinggi pada malam hari, dimulai menjelang  malam dan berhenti beraktifitas ketika matahari terbit. Lobster ini hidup berkelompok dan suka bermigrasi di alam, serta bersembunyi di relung pelindung karang, tepian dan celah-celah karang.


Apa pakan yang disukai lobster di alam? Berdasarkan analisis, isi lambung dari lobster dari alam, terlihat bahwa yang menjadi ‘mangsa’ di alam adalah zooplankton, krill, hewan filter feeder, larva ikan yang mengandung banyak protein, mineral dan enzim.


Apabila kita berbudidaya lobster, maka sebaiknya diberikan ikan rucah yang dicacah, udang kecil, cumi-cumi dan kerang yang dihancurkan dalam keadaan segar.


Lobster akan menyerang sesamanya apabila tidak diberi pakan yang cukup dan segar. Oleh sebab itu, lobster perlu diberi makanan segar dengan jumlah yang tepat dan waktu yang tepat, selain itu juga wadah budidaya lobster perlu ditambahkan shelter untuk bersembunyi.


Pakan alami yang disinyalir terbaik untuk pertumbuhan dan survival bagi lobster yang telah diteliti oleh penulis adalah ikan teri dan udang rebon (Gambar 1)




Gambar 1.  Ikan Teri Dan Udang Rebon


Riset Tahun 2023 tersebut memberikan rekomendasi bahwa pendederan lobster akan memberikan pertumbuhan yang baik bila diberi teri, dan meningkatkan  survival rate bila diberi udang rebon, sementara 2 jenis pakan lain yakni keong mas dan teritip tidak lebih baik dari kedua jenis pakan alami tersebut.  Hal ini memberikan informasi pakan alami terbaik bagi pendederan lobster.  Namun kedua jenis pakan tersebut tentu saja bersaing dgn manusia, sehingga ketersediaan pakan alami tersebut menjadi kesulitan. 


Taksonomi dan anatomi


Dalam pada itu telah ditemukan pakan alami alternatif kaya Calcium dan Posfor yang berasal dari kerang kerangan, yakni kerang coklat (Mytilopsis adamsi), Secara taxonomi  kerang ini merupakan phillum mollusca, kelas bivalve, ordo myida, family dresseinidae, genus mytilopsis, spesies mytilopsis adamsi.


Banyak ditemukan di muara Sungai, pesisir dan tambak.  Hasil analisis proksimat/kadar gizi dari kerrang ini kurang lebih sebagai berikut, kadar protein antara 12,94 % - 19,40 %, kadar lemak2,48 %, kadar abu2,24 %, kadar air  74,37 %.


Kadar mineral yang penting yaitu Kalsium sebanyak 78,2 miligram dari 100 gram sample kerang. Unsur Ca juga dianalisis bukan karena sebagai antioksidan, tetapi karena perannya yang sangat penting untuk pembentukan tulang eksoskeleton yang merupakan bagian penting dari lobster.


Kerang coklat merupakan hewan bivalve dengan 2 cangkang yang serupa, dengan bagian interior tubuhnya antara lain, mantel kanan dan kiri, insang kanan dan kiri, kaki dan lain-lain.


Gambaran anatomi kerang terdapat pada Gambar 2.





Kerang coklat hidup di perairan payau, tambak dan pesisir dengan salinitas antara 10 – 30 ppt, pH 6,5 – 7,5.


Bagaimana budidaya kerang coklat?


Ada beberapa metoda pembesaran kerang coklat, yaitu di tambak, di perairan umum muara sungai dan di dalam KJA pesisir.  Karena kerang coklat ini memerlukan substrat, biasa digunakan lembaran jarring ukuran  A3 yang  mudah dipindah-pindahkan.  Gambar 3 adalah spat kerang coklat yang menempal pada substrat/jaring.





Cara budidaya kerang coklat adalah cukup menggantungkan pada kandang (cage) yang disimpan di KJA laut secara vertical (Gambar 4 A) atau horizontal (Gambar 4 B).






Ukuran benih/spat  kerang coklat sekitar 5 mm, dan ukuran  dewasa sekitar 4 cm,   pada kondisi perairan yang tinggi bahan organiknya kerang coklat akan cepat tumbuh besar.

Budidaya kerang coklat ukuran remaja/juvenil dapat disimpan di kantong bawang dan digantungkan di KJA laut (Gambar 5 A dan 5B).

 



 Demikian sekilas tentang kerang coklat, semoga bermanfaat. (HS/RR).

 


Budidaya Kerang Coklat 'Mytilopsis adamsi' - Pakan Lobster Harapan Masa depan Budidaya Kerang Coklat 'Mytilopsis adamsi' - Pakan Lobster Harapan Masa depan Reviewed by Harri Safiari on 19.44 Rating: 5

Tidak ada komentar